Kamis, 10 Februari 2011

6 FEBRUARI (WEEKEND)


Hari minggu, cihuyyy. Berarti libur dong (Ya jelaslah kan angka di kalender warna merah). Berarti siap-siap ke lapangan murjani karena memang sudah ada tekad kuat untuk menghadiri milad (ultah nama bekennya) salah satu surat kabar terbesar di Kalimantan Selatan. Udah siap matching sama baju ijo dilapisin jaket abu-abu, celana training abu-abu, sepatu putih, rambut hiitam. Jooossss (pake kendaraan meluncur ke lapangan Murjani). Teman-teman sudah pada ngumpul yang sebelum hari H dikoordinir untuk riyadhoh bareng. Ya walau cuman 5 orang plus gue jadi berapa? (itung aja sendiri). Nah maka dari itu bermula dari niat untuk menghirup udara segar sambil senam santai, eh tenyata niat itu ternodai dengan adanya kupon berwarna putih dengan hadiah utamanya 1 motor bebek cing. Huwaa kebayang gak kalo gue yang dapet. Ya mau gak mau gue ngincer tuh, ngiler bo... Seandainya dapat pasti tuh motor gue tuker sama rumah bertingkat full AC? Kok bisa? Ya iyalah enggak?? Ohh oke guys, kisah tak sempurna ini berawal dari lari-lari kecil  yang sepele di sekitar lapangan. Terus mulai deh lenggak kanan-lenggok kiri senam santai, tak tahu SKJ berapa yang gue keluarin, yang penting gerak abis sesuai aturan main di depan. Huwaaa ternyata banyak juga umatnya. Duuuh peluang gue tuk dapetin tuh motor kayaknya satu per seribu deh. Gak nyangka, umatnya bejubel kayak di pasar minggu. Lain lagi dengan sohib gue, dia mah malah ngandelin shalat tahajudnya yang dipercaya kalau minta doa pas wktu itu bisa buat tuh doa diijabah. Cekakak. (tapi beneran lo, mau coba, silakan aja khasiatnya).
Udah senem beberapa menit, terjadilah kerumunan yang tak terkendali, massa mulai ricuh, senjata utama pun dikeluarkan dengan energik, suara mulai ricuh dan menggema ke seantaro lapangan. Ya semua ini karena panitia kurang bijak tuk membagi kupon, ya jadilah perebutan massal antara tangan jahil peserta yang pengen banget dapet motor bebek itu dengan tangan kalem panitia. Kayak bagi sembako orang miskin aja. Gue sama temen-temen gue mah gak segitunya. Padahal pengen ikut desak-desakkan, tapi apalah daya, bukan maenan kami yang kayak gituan, hehe. Terus akhirnya kami pun ngambil jalan tengah supaya waktu dapat dimanfaatkan sebaik mungkin, yaitu dengan jalan-jalan keliling dan menyatroni satu per satu stand yang sudah disediain oleh panitia kalau aja dapet sesuatu yang serba gratis, hehe.. Dan ternyta apa yang terjadi saudara-saudara. Hmmm, bener pan, di meja para pejabat-pejabat and tamu undangan dari media surat kabar yang bersangkutan tepatnya ada tergeletak beberapa buah gelas susu plus telur, dengan wajah polos tanpa menyakitkan kami memungutnya dengan santun, ya santun banget sambil nunduk gitu. Oooh tidaaaak dimana image gue sebagai artis profesional coba, dimana letak akhlak gue yang sudah dibangun dari tahun ke tahun. But, tuh pimpinan surat kabar mah manggut-manggut aja, dalam pikiran tuh pimpinan ” ceilee anak panti mana nih pada kelaparan?” Huuh gue asli gak tega, muka gue yang seribu kali lebih ganteng ketimbang si cubby (monyet) hanya bisa pasrah melihat keadaan. Ya walaupun begitu, susu plus telur itu berhasil gue rampas dengan gelak tawa kemenangan. Sukes bro. Ini berkat kelincahan adik kelas gue waktu SMA. Huuh pedenya minta amplop tuh anak. Tapi syukurlah, berkat dia, gue yang gak makan sedari pagi bisa memberi kekuatan buat cacing-cacing piaraan gue. Hiii, Gak cing.
Udah gitu kami pun terus patroli ke stand lainnya. Ya tepat sekali mata temen gue menatap lurus satu stand yang berbau gratis, Bubur kacang ijo. Hmmm Yummy, kami pun dengan cepat berjalan ke arah sana dan alhasil 1 gelas gue telen bulet-bulet. Enak, walau itu bekas gelas punya orang yang tidak dikenal identitas dan ke sterilan bibirnya. Tapi gue tetap minum dengan keseriusan yang sangat amat teramat. Dibalik itu semua, Bro gue belum kenyang. Mungkin ini dikarenakan efek tak dapat kupon berhadiah tadi, ya lagi-lagi ini semua karena kesalahan panitia yang gak ngebagi saat senam. Alhasil, kami pun hanya bisa duduk nyantai ngelihtin muda-mudi pada beraktivitas. Asli gue ngiri tuh sama sosok ayah, ibu dan anak kecil yang lkewat di depan gue. Mesra sekali, walau tuh bapaknya pasti pengen poligami, hihi. Gak becanda. Duuh serasi banget, anaknya juga lucu, amit-amit. Pengen sih punya istri dan anak yang kayak gitu juga. Gue cakep, istri cantik tapi sholehah serta kaya raya, anak lucu bin ngegemesin. Amien. Doakan ya temen-temen ^_^. Tapi kok malah bahas masalah ini. Yup mari kita kembali ke topik, tapi mohon maaf sebelumnya, mau milih topik yang mana? Topik hidayat atau topik savalas (nah loh?) Next, kami pun merasa perut ini belum terisi penuh. Bubur ayam menjadi sasaran empuk yang mungkin kali ini gak gratis, hiksss. Disana sudah terlihat dengan manis setoples kacang bubur, yaaa kami libas habisss deh pas baru nyampe dan duduk (sory man, paman cakep deh, apalagi istrinya, hehe. Nakal.com). Sayang tuh paman tidak ngelihat aksi bejat kami. Hihi. Nah, sambil nungguin tuh bubur dibakar (nah loh, emang versi sate) kami bergurau gak jelas. Ya biasa kayak empok-empok di depan televisi atau ibu-ibu yang lagi beli sayur di pasar. Kami pun menjadi tretcenter atau buah bibir para pelari kecil di lapangan. Pasti banyak tuh oran-orangg yang pada nengok ke arah gue sembari berucap dalam hati. ”Duuh siapa tuh yang pakai kacamata, asli gue suka sama yang ada di sebelahnya (nah loh, nyesel nih gue nulis gini). Terus mungkin ada juga salah satu cewek abege yang bilang gini. ”Duuh cakepnya yang pake baju ijo itu, Subahnallah banget, berapa ya kira-kira nomor hapenya, pengen nih nanya dimana beli bajunya. Hehe (gubrak!!!). Yups puas kan sudah melihat gue menderita. Huuuh.
Setelah itu istri sang paman bubur pun menghidangkan beberapa bubur yang sudah dipesan sebelumnya, kami dengan sigap mengambilnya tanpa kompromi dan basa-basi, gue ambil sendok terus masukkin kacang, kerupuk, sambel, mentega, garam secukupnya, gula setengah sendok raksasa, dan telur seadanya (huwaaa kok kayak mau buat adonan bolu). Ya sudah apalagi yang ditunggu. Haaap lalu ditangkap. Gue mamah tuh bubur dengan kekuatan satu kunyah per 30 detik. Alhasil gak sampai 10 menit gue libas dengan mantap. Haaaah kenyang abis bro. Asli ueeenaknya poool. Dengan prilaku kedewasaan yang menjiwai raga gue, akhirnya isi perut ini full penuh dengan warna warni makanan. Lanjut cerita kami pun langsung pergi dengan wajah yang cemerlang. Walau gak dapet tuh kupon putih, kami tetap bahagia, karena kebersamaanlah yang membuat kami bahagia. Ya semoga saja kita selalu menjunjung kebersamaan ini sampe mati ya teman (kecuali pas adegan mandi, najoong kalau sama-sama. hehe) dan setelah itu gue pun pulang ke ke rumah dengan hati penuh gembira, segembira soda gembira., seperti matahari yang sedang tersenyum ke arah gue sambil mendelikkan mata cantiknya dan berucap selamat pagi dunia (personifikasi yang lebhay). Haha.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar