Kamis, 10 Februari 2011

7 FEBRUARI 2011 (HANG OUT MEMORIAM)

Hari ini gue ngingat masa lau, asyik juga kalau ingat-ingat masa lalu, jadi ngakak sendiri, terus gue buka catatan-catatan gue di facebook yang sudah tergerus oleh modernnya jaman, gile tulisan gue berbagai macam rasanya kayak nge’pencok aja lagi. Ada yang serius, ada yang love-lovean, ada yang dakwah banget, ada yang puisi, ada yang cerpen, ada yang ngomporin masalah politik, ada juga yang ngelawak, hehe. Ini die yang gue cari. Di balik itu semua akhirnya gue cuman ngerevisi tulisan gue yang ada di tahun 2010. Lumayan, daripada gak ngapa-ngapain. Iya kan? Kali ini tentang anak rohis yang pada hang out ke salah satu mall terbesar di Banjarmasin, yaitu Duta Mall. Wah wah ngapain nih? Ngeceng? Beli yang baru-baru? Atau jangan-jangan mau nyopet bahkan curi barang antik di sana. Hehe. Gak cing, gak banget. Ke sana cuman mau ngepet kok. Hihi.. Nah, mau gimana nih ngawalin ceritanya, apa yang harus gue tulis duluan. Ya sudah mari sama-sama kita dengarkan aja pembukaan dari gue: Assalamua’alaikum. Wr. Wb. Teman-teman sekalian sebelum kita ngebaca nih blog marilah kita berdoa menurut agama dan kepercayaan masing-masing, semoga sang penulis dapat berkahnya dan kita sebagai pembaca budiman mendapat hikmah yang luar biasa dari kisah yang penulis ungkapkan kali ini, semoga pula rahasia yang ada  bisa terpecahkan. Amien. Berdoa dimulai. 1 menit berlalu... 2 menit berlalu... 3 menit berlalu... 4 menit berlalu... 5 menit berlalu (bujug buneng doain siapa aja tuh sampai durasinya 5 menit). Dan berdoa selesai. Alhamdulillah... Langsung saja ya daripada bosen denger sambutan gue yang gak waras kayak gini mending ambil nafas dalem-dalem, tariiiikkkk hembuskan pelan-pelan, tariiiik lagi, hembuskan lewat mulut, fiuuuh. Tarik lagi sampai sesak nafas, yap hembuskan lewat mulut, Haaaaaah ke arah wajah teman elu (Pasti teman lue langsung nabok tuh, soalnya nafas elu baunya bukan main). Oke, kita mulai, begini ceritanya pakai tokoh utama ya (gak utama sih sebenarnya, dipaksain aja biar keren):
1. Ka Saprudi (mahasiswa angkatan ujung tombak) hehe…
2. Saberin (mahasiswa angkatan 3)
3. Veri (mahasiswi angkatan 4, upsss salah bro mahasiwa maksudnya)
4. Hasmi (sama seperti diatas)
5. Arian (mahasiswa angkatan 2)
6. Taqqin (sama seperti di atas)
7. Gue/Adryan(mahasiswa angkatan 4)
Ini kisah berlangsung saat bulan september 2010 lalu, tanggalnya gak tahu kapan, nah tulisan ini gue persambahkan dengan sesembahan seekor binatang cubby (monyet) kepada mereka teman-teman gue yang notabenenya adalah seekor rohis (hiii kayak binatang dong). Ya merekalah ke-7 orang itu termasuk gue di dalamnya yang nyungsep. Asal muasalnya gini, waktu itu kan pada janjian tuh, kumpulan jam 7 ba’da sholat magrib. Si Berin datang dengan sumringah soalnya habis dapat bingkisan misterius dari Ka Saprudi. Ya mau tak mau gue sambut dengan hati gundah gulana. Tiba-tiba beberapa menit kemudian Si Arian datang dengan gagah beraninya (padahal sebelumnya tersesat gak jelas). Nah, saat itu pula mereka mulai memamah biak dirumah gue. Dalam sekejap cemilan gue yang tersimpan rapat selama beberapa tahun terhisap habis oleh mulut-mulut tak berdosa itu. Ckckckc. Tapi tak mengapa namanya aja silaturahim, ya pantas lah mereka itu dipanjangkan umur dan bertambah rezekinya. Apalagi yang ngasih tuh kue (moga tambah banyak rezekinya, walaupun sekarang masih dalam kondisi BT (Banyak Tagihan-red. Huuuh)).
Adzan isya pun berkumandang lantang gak pake malu, ka saprudi yang ditunggu tunggu dari tadi gak juga datang, ya terpaksa deh ketemuan di mesjid istiqomah, sekaligus numpang wudhu dan sholat (sepaket) disana, xixixi. Setibanya, subahanallah sujud kami pun membawa ke peraduan alam akhirat, berkomunikasi dengan sang pencipta. Sungguh Dia lah yang menciptakan gue sampe sekeren ini, gue pun pada akhirnya banyak-banyak bersyukur. Alhamdulillah. Kami juga kebetulan bertemu dengan Taqin (Adegan pertemuan sudah direkayasa sebelumnya). Setelah kelar binti selesai segala macamnya menyangkut adegan per’isyaan yang jumlah rakaatnya 4 buah. Kami mulai beraksi menjemput si Veri. Sesampainya di tempat Veri, kami pun menaruh sebagian kendaraan. Dan setelah melakukan syuro yang sempat beradu otak dan otot telah disepakati gue berboncengan dengan Berin, Ka Saprudi degan Arian dan Veri dengan Taqin.
Di saat perjalanan menuju Banjarmasin. Gue dan Berin bercanda ria tak lepas sentuhan-sentuha nakal menggelayuti otak sadar kami dalam peraduan cinta (apaan coba?) dan tiba-tiba disaat suara jangkrik membahana dan aliran angin romantis menyapa kulit tubuh kami berdua. ”Duarrr” (bukan suara tembakan. red) hape satu satunya kepunyaan Berin yang konon katanya waktu beli itu second di suatu tempat asing, terhempas ke aspal, bagai gerak jatuh bebas, lantas, pantas dan lepas dari tali headset yang ia lengketkan sebelumnya di telinga sebelah kanan dan kiri (ya iyalah). Kemudian tanpa dikarang-karang oleh penulis, hape itu pun terinjak, tertabrak, tertindas, terhentak-hentak, ter apa lagi ya biar kedengarannya mengerikan (padahal gak segitunya kaleeeee). Sehabis itu berin berucap dengan cool seolah-olah tak pernah terjadi seuatu ”Hape gue jatuh bro”. Dengan gaya terkejutnya gue yang sedari tadi menikmati semilir angin malam beristigfar dan dengan sigap Berin pun mulai nge’rem tuh kendaraan. kami pun kembali mundur beberapa meter, beberapa menit kemudian melalui pencarian yang bermula dengan penuh ketegangan yang sangat (layaknya tim SAR) karena harap-harap cemas tak dapat lagi ditemukan potongan mayatnya, akhirnya tereeeennnnggg gue mendapatkannya dengan penuh bangga, hape mungil itu syukurlah masih bisa hidup, Berin pun mengucapkan syukur alhamdulillah tiada tara (pasti dalam hatinya berujar, waduh untung punya kaka tingkat kayak gue, sudah jujur, baik, ramah tamah, low profile dsb (maaf tak ada adengan kesombongan dari sang penulis-red. Itu semua dari kata hati Berin langsung). Hehe.
Setiba di DM, masyaAllah inilah bedanya anak rohis sama yang bukan, waktu itu kan ada tempat pewudhuan, ya kami pada wudhu dulu sebelum melangkah ke lantai atas. semua pada tertawa, mau nonton film aja pake wudhu, ckckckc. Dengan elegannya kami pun berjalan mantap lurus  ke depan (sambil menghilangkan pandangan yang menjurus ke arah tidak baik, secara kan DM banyak mudi-mudinya tuh, hoho). Eh ketika gue lihat ke arah bawah, gue nangkap sesuatu yang janggal dari salah sau sandal teman gue. Huaaaa ternyata ada yang pake sendal jepit (nipon). Gkgkgk. Tahukan elu-elu pade siapa pelakunya? Pemakainya itu ternyata Taqqin. MasyaAllah, tawa pun meledak dengan anggapan masa ke Mall bawa pake sandal jepit bau lagi (kan gak etnis gitu lohhh). Taqqin pun hanya bisa diam memalukan dirinya sendiri, nah loh? Pasrah dengan kenyataan. Hehe.
Sesampainya di lantai 4, kami bertemu dengan Hasmi yang sudah diperintahkan untuk membeli tiket karena rumah die dan tuh Mall gak jauh beda, hehe, ngasal, maksudnya gak jauh jaraknya. Padahal dengan perasaan cemas, ia hanya berdzikir menunggu kami berenam). Ya setelah salaman sama beliau, kami langsung masuk ke 21 nya (walau terlambat 10 menit) tapi itu tak mengurangi rasa kami untuk khusuk dalam menonoton film yang subhanaallah banget itu. Dalam heningnya suasana dan dinginnya ruangan karena faktor satu alat yang bernama AC (sampe-sampe nyamuk aja gak berani berisik dan malah ikut nonton juga) kami pun terbius oleh asupan-asupan bergizi tuh film. Nah ceritanya kan udah kelar tuh film, ya sudah kami pun pada keluar. Gak ada yang tertinggal kok, kecuali hati gue yang selalu terpatri untuk si dia (nah loh?). kami pun menuruni tangga luar (sengaja gak pake lift atau eskalator, biar jiwa kerendahan hatinya muncul). Di parkiran, kami berfoto ria dengan gaya masing-masing penuh bangga. Pukul 23.00 lewat, kami terpaksa pulang (siapa yang maksa, wong emang sudah waktunya). Di jalan gue hanya bisa mengagungkan asma Allah (ceilee), kudu di ikutin ya. Hehe.. dan gue pun menutupi tubuh gue yang mungil dengan sebuah jaket sambil berkata, brrrrrrrrr. Bila ada kesamaan nama tokoh, tempat atau apa-apa saja yang berkaitan dengan tulisan ini mohon dimaklumi, karena gue di sini hanya bertindak sebagai penulis yang  culun.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar