Cie.. Cie.. Sssttttt… kayaknya ada yang lagi happy nih. Hihi.. Ya Alhamdulillah, hari ini tulisan gue nongol lagi di salah satu surat kabar terkini Kalimantan Selatan. Udah satu bulan gue vakum, eh ternyata gue masih eksis dalam persaingan belantika tulis-menulis jaman sekarang. Temanya sangat rame sih, jadinya gue nulis dengan semangat 45 yang membara sebelum menuju puncak terpublishnya ni tulisan. Ya beginilah gue, setiap tulisan gue masuk di media cetak, gue langsung beli atau gak, pakai jalan tengah nyolong duit emak. Hehe, gak cing, dosa tahu. Pas gue beli, gue baca sekali lagi, ya ada yang di edit sih tulisannya sama pengedit (ya iyalah masa sama bokap elu), tapi gak apa, tenang brew, gue masih memaklumi kok, pasti tulisan gue itu kepanjangan. Cekikik. Yang penting isi dan niatnya sama, betul tidak? Setelah dibaca berkali-kali sampai nih mata bosan dan pegal apalagi sempat encok, gue langsung berpikir keras sekeras minuman keras yang ada di tangan pemabuk. Kok bisa ya gue nulis yang seriusan kayak gitu, hehe. Emang sih tuh tulisan hanya komentar dari hati kita yang paling imut kayak bentuk love gitu, tapi sejak tahun 2009 nongol tanpa dipaksa sampai tahun sekarang yang memakasa dirinya sesegera mungkin untuk nongol, gue merasa ada yang janggal bin aneh bin buat gue surprise (loh?). Gue ini sebenarnya penulis dengan background apa sih? Fiksi atau non fiksi. Itu sebenarnya yang gue bingung, yang serius atau apa yang ngelawak? Hoho... Ya gimana lagi, gue emang hobi nulis, ya nulis apa aja sih asalkan fatwanya halal dan masih gratis, gak bayar kayak masuk Wece. Cekakak.
Nah, mau tahu gak tulisan gue yang serius ini apaan? (kira-kira ni tulisan yang keberapa ya yang gue tulis dengan seserius mungkin). Ya sudah gak usah dipikirkan yang kebeapa. Gimana tawaran gue yang tadi, mau tahu gak tulisan gue apa isinya? Nyolot aja ni anak. Oke deh gue publish di sini ya, biar pada tahu dan pada gak penasaran kalau gue ini saingan terberatnya Lee Min Ho. Pastinya saingan gue waktu maen gundu dulu, hehe bukan saingan memperebukan hati cewe, masalah itu mah jelas gue yang lebih duluan di gebet sama para fans (maksa untuk memenangkan diri, namanya aja blog gue). Ya sudah perhatikan dan simak baik-baik. Ambil hikmahnya, petik manfaatnya, colong nasihatnya, kasih masukkan bila ada salahnya. Oke, temanya mengenai gaji Presiden Pa Esbeye yang layak naik atau tidak? Check it out:
Curhat Presiden Susilo bambang Yudhoyono tentang gajinya yang tidak pernah naik selama 7 tahun, mendapat reaksi dari masyarakat. Ada yang bilang, mengurus rakyatnya saja belum beres kok naik gaji. Namun ada juga yang setuju. Gaji bukanlah persoalan yang kita bahas sekarang, tetapi kinerja yang perlu ditingkatkan. Bohong kalau gaji yang selama ini didapat masih dikatakan kurang. Lagi pula, pemerintah harusnya menunjukkan sikap empati kepada rakyat yang kurang mampu. Apalagi Indonesia belum dikatakan merdeka dalam arti sesungguhnya, rakyatnya belum sejahtera.
Sebaiknya pemerintah lebih memikirkan kesejahteraan rakyat ketimbang memikirkan materi. Seorang pemimpin harus memiliki kepekaan sosial terhadap rakyatnya. Bila seorang pemimpin hanya memikirkan diri dan keluarganya, maka ia adalah pemimpin yang gagal dan tidak amanah. Semoga pemerintah dapat melihat ke bawah, sedih melihat kondisi dan kenyataan yang ada sekarang. Belum saatnya dinaikkan sampai hukum benar-benar ditegakkan dan kesejahteraan masyarakat dipenuhi. Semoga secepatnya pemerintah memenuhi tuntutan adanya keadilan dan perlindungan dari penguasa.
Koran X, Rabu 9 Februari 2011.
Nah, gimana kawan. Top begete atau enggak begete? Itu mah kalau gue serius, gimana kalau tulisan itu gue ubah versinya ke dunia perngocolan. Hemmm, jangan-jangan tuh Pak presiden, ketawa ngakak. Amien. Hihi Gue sih sebenarnya pengen ada bahasan ditulisan gue itu, kenapa ya kita selalu saja gak bersyukur dengan apa yang sudah diberikan oleh Allah SWT. Padahal kan kalau kita bersyukur walau itu dikasih sedikit, pasti akan ditambah lagi oleh Allah SWT. Percaya gak? Ya bagaimana pun itu kita kudu berhusnudzon, mungkin Pak Esbeye pengen nambah cucu kali, jadi ya yang masuk dompet beliau kudu nambah juga. Hehe. Tapi gue sedikit salut sama Pak Esbeye, beliau bisa juga ternyata curhat (Ya manusiawi dong, hihi). Coba waktu itu curhatnya sama gue, pasti deh gue kasih tuh doa di sepertiga malam biar maknyus dan diijabah sama Tuhan. Lagian Pa Esbeye juga salah kenapa baru aja curhatnya, coba waktu kemarin-kemarin, pasti deh gak akan ada semboyan ”Lanjutkan”. cekakak.
Ya sudah, gak usah dibahasa panjang lebar kayak persegi panjang, entar malah ghibah. Terus dosa deh. Maaf ya pa Beye. Hiksss. Yuk kembali ke jalan yang lurus. Setelah selesai gue baca tu koran, gue berdoa semoga pemerintah gak cepat senang apabila gaji mereka dinaikkan, ingat masih ada orang-orang yang di bawah kita kan, yang sangat memerlukan bantuan dan pertolongan dari tangan halus kita. Minimal 2,5 persen untuk mereka. Semoga gue juga tetap istiqomah menyemai bibit-bibit kebaikan dalam menjalani hidup gue yang semakin berlika-liku. Doanya ya kawan (eits tunggu dulu, jangan tapi serius ngebacanya, entar wajah elu malah keriputan, santai saja, rileks, anggap aja ni tulisan sebagai tulisan yang paling berat elu baca sampai saat ini. Emang berapa kilo?) ^_^ . Bu bay, See You.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar